LUAR BIASA.
Percaya atau tidak, sesuatu yang luar biasa datangnya dari sesuatu yang biasa-biasa saja. Hal ini tersadarkan saat mata saya yang memandangi muda-mudi sedang berlalu-lalang di sebuah pusat perbelanjaan. Grey skinny jeans dipadukan kaos wana-warni bergambar grup musik terkini seperti Ramones, cardigan, dan kalung-kalung rosario tergantung a la Britney Spears yang bukan sama sekali menjadi fashion icon bagi saya. Mereka mencoba keras untuk memastikan seperti apa garis gaya yang dimilikinya, konon hal ini akan mencirikan jati dirinya. Terkadang justru seperti sedang merumitkan dirinya sendiri. Sesekali memaksakan Louis Vuitton, Hermes, Gucci, dan beberapa merek sejenis untuk masuk ke dalam gayanya.
Saya memalingkan mata ke arah seberang, di sofa terdepan kedai kopi terlihat seorang muda lainnya yang dengan sederhana hanya memakai regularfit jeans dan poloshirt Lacoste kekuningan. Aksesori yang dipakai hanya jam tangan berbentuk kotak dengan rantai yang melilit. Sepatunya pun tidak macam-macam, Adidas putih. Sangat biasa, namun untuk kali ini dia yang saya cari, sesuatu yg biasa telah sukses menjadikannya luar biasa.
Kemudian saya langsung memandangi diri saya sendiri. Oh Tuhan, bahkan sepertinya saya sendiri pun seolah sedang berusaha memperlihatkan diri saya sebagai yang luar biasa. Menjadi seragam dengan yang lain. Kaos putih bergambar 4 hasil foto Polaroid, tumpukan kalung olahan kreativitas seorang teman, rompi berwarna hitam dengan detail garis abu-abu, grey skinny jeans Tsubi, ikat pinggang canvas Bally, dan sepatu Gucci hitam. Setelah itu, saya melirik ke kanan mengarah pada sahabat saya, ia memakai kaos dan hotpants warna kuning menyala, kalung dan anting berbentuk petir warna-warni Stabillo, tas Anya Hindmarch bergambar grup musik legendaris The Beatles, stocking hitam, dan open toe stilettos hitam kilap.
Sekali lagi, haruskah, atau bisakah saya menjadikan diri saya sebagai sesuatu yang biasa untuk menjadi luar biasa? Tak perlu berusaha sebagai yang luar biasa namun tetap terlihat biasa-biasa saja.
Lalu, bagaimana dengan anda sendiri?
